Kisah Sunan Kudus Sang Walisanga

Dulu Viral Kini Semakin Mahal

Kisah Sunan Kudus Sang Walisanga

Kota di Jawa Tengah yang dikenal sebagai Kota Kretek ini menyimpan Kisah Sunan Kudus Sang Walisanga dalam berjuang menyiarkan agama Islam di tanah Jawa

Kontak WA mbah mijan

 

Siapa sebenarnya Sunan Kudus?

Sunan Kudus adalah salah satu penyebar agama Islam di Indonesia yang tergabung dalam Walisanga, yang lahir sekitar 1500an Masehi. Nama lengkapnya adalah nama Sayyid Ja’far Shadiq Azmatkhan. Ia adalah putra dari pasangan Sunan Ngudung.

Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa dan timbulnya negara-negara Islam di Nusantara. Bapaknya yaitu Sunan Ngudung adalah putra Sultan di Palestina yang bernama Sayyid Fadhal Ali Murtazha (Raja Pandita/Raden Santri) yang berhijrah fi sabilillah hingga ke Jawa dan sampailah di Kesultanan Islam Demak dan diangkat menjadi Panglima Perang.

Jatidiri Sang Sunan

Nama Ja’far Shadiq diambil dari nama datuknya yang bernama Ja’far Ash Shadiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib yang beristerikan Fatimah Az Zahra binti Muhammad.

Sunan Kudus sejatinya bukanlah asli penduduk Kudus, ia berasal dan lahir di Al-Quds negara Palestina. Kemudian bersama kakek, ayah dan kerabatnya berhijrah ke Tanah Jawa.

Babad Tanah Jawi

Sedikit Mbah Mijan membuka Babad Tanah Jawi (selanjutnya disebut BTJ) adalah terjemahan dari Punika Serat Babad Tanah Jawi Wiwit Saking Nabi Adam Doemoegiing Taoen 1647 yang disusun oleh W. L. Olthof di Leiden, Belanda, pada tahun 1941. Seperti pada pengertian babad pada umumnya, di sini terdapat cerita-cerita tentang pendirian sebuah negara (kerajaan) dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di seputar kerajaan tersebut.

“…Orang di tanah Jawa taat serta menganut agama Islam. Mereka bermusyawarah akan mendirikan masjid di Demak. Para wali saling berbagi tugas, semua sudah siap sedia. Hanya Sunan Kali Jaga yang masih ketinggalan, bagian garapannya belum berbentuk, sebab sedang tirakat di Pamantingan. Sekembalinya ke Demak, masjid sudah akan didirikan.

Sunan Kali Jaga segera mengumpulkan sisa-sisa kayu bekas sudah menjadi tiang.Pagi harinya tanggal 1 bulan Dulkangidah masjid didirikan dengan sengkalan tahun 1428. Kiblat di masjid searah dengan ka’bah di Mekkah. Penghulunya Sunan Kudus. Setelah beberapa Jumat berdirinya masjid tadi, ketika para wali sedang berdzikir bersama di masjid itu, Sunan Kudus duduk khusuk bertafakur di bawah beduk, tiba-tiba ada bungkusan jatuh dari atas-buku kulit kambing, di dalamnya ada sajadah serta selendang Kanjeng Rasul”.

Lebih mendalam tentang Babad Tanah Jawi

“Pada waktu itu banyak orang Jawa yang belajar agama Islam, kedigdayaan, dan kekuatan badan. Ada dua orang guru yang terkenal, yaitu Sunan Kali Jaga dan Sunan Kudus. Sunan Kudus itu muridnya tiga orang, yaitu Arya Penansang di Jipang, Sunan Prawata, dan Sultan Pajang. Yang paling disayang adalah Arya Penansang.”

Sunan Kudus sangat menyayangi Arya Penangsang walaupun digambarkan memiliki sikap pemarah dan kurang hati-hati. sebenarnya hal ini cukup meragukan karena Sunan Kudus tidak mungkin menyayangi murid yang memiliki perilaku yang buruk. Sedangkan Sunan Kudus dikenal sebagai salahsatu anggota Dewan Wali paling bijaksana hingga dipilih menjadi penghulu dewan Walisanga saat masih bertugas di Kasultanan Demak.

Kontak WA mbah mijan