Bangkit Setelah Terjepit Bunga Kredit

Cantik Tiada Tara Susuk Mutiara

Bangkit Setelah Terjepit Bunga Kredit

Tergiur dengan kemudahan mendapatkan pinjaman uang membuatku terlena dan sudah saatnya aku bangkit setelah terjepit bunga kredit

Kontak WA mbah mijan

Ingin muda kaya raya

Siapa yang tak ingin berjaya diusia muda? Tentu itu adalah impian semua orang. Termasuk saya yang sedari masih duduk dibangku kuliah sudah bernafsu ingin memulai usaha dibidang kuliner khususnya coffee shop. Melihat para pengusaha kopi sukses diusia muda memberikan rangsangan tersendiri buatku. Apalagi prospek bisnis kopi itu kedepannya cerah dan menjanjikan.

Berbekal keinginan yang kuat inilah aku mulai belajar kesana kesini. Selain mencari ilmu aku juga mencari peluang agar bisa memulai lebih cepat lebih baik. Berbagai trick dalam rangka menjalankan bisnis kopi aku pelajari dan dalam waktu singkat aku memang sudah tak sabar lagi untuk memulai.

Secara kemampuan aku yakin bisa hanya saja secara pendanaan atau modal awal aku masih terkendala. Untuk meminta dukungan keluarga pun sepertinya sulit. Kasihan orang tuaku yang tinggal ibuku saja. Sedang adik-adikku masih bersekolah.

Berani berhutang

Setelah aku merenungi kondisi yang terjadi saat ini akhirnya aku memberanikan diri dengan cara berhutang. Mulai dari meminjam ke perusahaan loan hingga pinjaman online. Ternyata mudah zaman sekarang untuk mendapatkan pinjaman uang dengan berbagai macam aplikasi yang ada di handphone.

Dana sudah ditangan dan aku tinggal memulai bisnis ini. Semangat membara meski belum cukup pengalaman dalam berbisnis. Hanya sekadar bisa belum sebagai ahlinya. Kenekatan ini rupanya menjadi biang dari kehancuran finansial dalam bisnisku.

Mudahnya hutang tak semudah saat mengembalikan. Ketidakcapakanku dalam mengelola sistem keuangan ditambah masalah omzet yang tak sesuai harapan mendera bisnisku. Hutang berbunga itu menggunung dan melebihi jumlah yang aku pinjam. Ini tentu bisa jadi masalah lagi jika orang tuaku mengetahui aku telah berhutang dengan riba selangit. Aku berusaha untuk tidak panik tapi itu tak menyurutkan nilai hutang dan bunga yang terus bertambah.

Bangkit Setelah Terjepit Bunga Kredit

Sahabat tempat curhat

Ditengah kondisi panik dan gak tahu harus bagaimana lagi ternyata masih ada sahabat yang peduli. Awalnya sahabatku ini datang mampir. Lalu ia melihat kondisi bisnisku yang senyap. Lalu ia juga menyaksikan bagaimana aku menerima telepon dari penagih yang nyaris terus menerus menghubungiku.

Rasa prihatin dan simpati ia tunjukkan dengan menepuk pundakku. Kamu yang sabar, ucapnya singkat. Ia sempat bertanya berapa jumlah hutangku. Aku malu dan akhirnya aku sebutkan jumlahnya yang hampir menyentuh angka 200 juta.

Sahabatku terperangah, sesaat ia terdiam. Aku perhatikan ia menghubungi seseorang tapi aku gak mau dengar apa yang ia bicarakan. Ternyata sahabatku ini menawarkan sebuah pekerjaan di coffee shop sebagai barista. Tak hanya itu saja bahkan selama aku menjadi barista, sedikit demi sedikit aku akan dibantu untuk keluar dari jerat hutang yang bikin njerit ini.

Bangkit tanpa tapi

Selama bekerja sebagai barista aku bekerja ekstra, uang lemburan itulah yang aku gunakan untuk perlahan menutup hutang. Lalu boss coffee shop yang tak lain adalah paman sahabatku itu juga memintaku untuk menangani gudang atau logistik. Setidaknya waktuku dalam sehari hampir 15 jam kuhabiskan disini.

Semua demi bangkit dan tanpa tapi. Seiring kebangkitanku dari lilitan bunga kredit ini, sahabatku mengingatkanku untuk sering ibadah malam. Berdzikirlah dengan Tasbih Karomah seperti milikku ini. Dia berkisah singkat bahwa usaha sepatu yang dimilikinya meski kecil tapi untung terus. Sekilas ia menyebut istilah Baiat Kerejekian.

Lalu ia juga bilang bahwa kelak jika hutangmu lunas dan terbebas dari riba, kamu sudah waktunya gunakan sarana itu. Agar jangan terjerumus lagi dalam lingkara riba yang menjauhkan keberkahan usahamu. Aku bersyukur punya sahabat sepertinya. Bisa menenangkan, bisa menghidupkan sekaligus membangkitkanku dari terpuruknya finansial.

Rasa terima kasihku untuknya tak cukup dibalas seumur hidup apalagi pamannya yang sangat baik hati memberiku waktu 15 jam sehari untuk mengabdi sekaligus belajar untuk memahami arti bisnis sebelum terburu-buru memulai bisnis itu sendiri.

Kontak WA mbah mijan