Kesabaran Dan Doaku Hempaskan Perebut Suamiku

Masalah Beres Karir Pun Sukses

Kesabaran Dan Doaku Hempaskan Perebut Suamiku

Untuk buah hati dan harga diri kuperjuangkan hingga kesabaran dan doaku hempaskan perebut suamiku

Kontak WA mbah mijan

Pasangan hidup super sibuk

Saya Ibu Listya dan suami saya bernama Pak Hendra. Kami menikah diusia yang sama, sama-sama usia 26 tahun. Baik saya dan suami adalah teman sejak kuliah dan kami serius berpacaran dari semester 4. Selama mengenal suami, beliau adalah sosok pekerja keras dan pantang menyerah. Saya sangat mencintainya selain karena kecerdasannya adalah keharmonisannya. Beliau penuh perhatian dan kasih sayang.

Meski kami memiliki latar belakang pendidikan yang sama namun suami lebih memilih berkarir dibidang pertambangan. Saya sendiri lebih memilih sebagai pengajar. Saya mengajar di 3 tempat berbeda sedang suami bekerja dikantor walau kadang harus terjun ke lokasi langsung jika dibutuhkan.

Kesibukan kami sangat menyita waktu, saking sibuknya hampir 4 tahun menikah kami belum diberi momongan. Barulah setelah saya mengurangi intensitas mengajar dan mengikuti program hamil akhirnya bisa diberi momongan. Anak pertama kami kembar siam.

Perubahan yang drastis

Ketika itu Aira dan Aura, kedua putri kembar kami hendak merayakan ulang tahun yang pertama. Saya paham suami saya memang sedang sangat sibuk saat itu. Saya bersama kedua putri saya menyiapkan segala sesuatu dirumah. Sengaja kami ingin rayakan dengan mengundang anak-anak dilingkungan kami. Selain kedua orang tua dan keluarga besar kami tentunya.

Suami saya memberi kabar kurang baik dimana saat hari H ulang tahun Aira dan Aura, ia tak bisa menyempatkan waktu pulang. Padahal itu tepat dihari Minggu. Terperangah, kaget bukan kepalang. Sampai akhirnya aku nekad menghubungi rekan suami yang dulu satu kampus saat kuliah. Anehnya rekan suamiku ini pulang ke Jakarta. Ia tak tahu menahu kondisi suami.

Diam tanpa harap, melihat kedua putri kami ulang tahun tak selengkap yang mereka kira. Usia mereka baru setahun, tapi hati kecil mereka tentu paham dan mencari kemana Ayah? Rasa malupun tak tertahan saat yang lain menanyaka kemana Ayah si kembar? 

Kesabaran Dan Doaku Hempaskan Perebut Suamiku

 

Menjadi pendiam tapi temperamen

Perubahan semakin hari makin terasa dimana selalu ada alasan untuk tak pulang. Lalu ketika pulang malahan sibuk sendiri dan cenderung diam. Anehnya pula saat minta dibuatkan kopi dan kepahitan, kontan langsung marah gak karuan. Kenapa sensitif dan temperamen yaa suamiku? Begitu tanyaku dalam hati.

Keceriaan kedua putri kami tak sedikitpun membuatnya mendekati dan mengajak bermain bersama. Apa mungkin suami tak mengharapkan ini semua? Ahh gak juga, ia ingin anak perempuan sejak awal kami program. Berbagai tanda tanya menggelayut di benakku. Apa akan seperti ini terus dan keadaan makin dingin rumah tangga ini?

Perubahan suami ini nyaris hampir saya ceritakan kepada orang tua dan mertua tapi saya urungkan. Jangankan cerita kepada mereka, untuk menulis buat story sosial media saja saya tak sanggup. Saya tak ingin curhat di sosial media. Biarlah semua ini saya pendam kuat-kuat. Sabar Ya Allah sabar.

Saya lakukan dengan cara saya

Suatu pagi yang gerimis, suami bergegas berangkat ke kantor. Sementara kedua putri kami masih tertidur pulas. Pagi itu ibuku menginap dirumah dan rupanya ini adalah kesempatan baik untuk saya memulai melakukan tindakan yang saya rencanakan. Saya ingin membuntuti suami saya diam-diam, selagi ada ibu yang jagain Aira dan Aura.

Rencana saya mulus, sampai tiba saatnya makan siang saya tetap memantau tak jauh dari kantor suami. Saya lihat suami saya keluar kantor untuk makan siang, ia memisahkan diri dari para rekannya. Saya tetap membuntuti dengan sangat hati-hati. Akhirnya, kepergok sudah suami bersama wanita lain. Kami terlibat cekcok tapi tak lama. Saya langsung pulang.

Ibu yang sudah menduga semuanya rupanya sudah menyiakan tindakan diluar dugaan saya. Namanya Puter Giling, ibu bilang inilah yang akan menyadarkan suamimu. Tapi sabar, ini akan butuh waktu proses dan tak boleh putus asa dalam berdoa. Alkisah, sabarku menjadi akhir yang indah. Alhamdulillah.

Kontak WA mbah mijan