Renungan Filosofi Berak Dalam Kehidupan

Renungan Filosofi Berak Dalam Kehidupan

Renungan Filosofi Berak Dalam Kehidupan

Renungan singkat tentang filosofi “Berak” dalam kehidupan, yang sering diucapkan orang, namun ada makna yang terpendam didalamnya

 Kontak WA mbah mijan

 

Berak adalah proses keluarnya kotoran dari anus. Signal berak dalam tubuh, sangat otomatis, tanpa harus diperintah atau ditunggu, maknanya atas kemauan sendiri tanpa paksaan.

Setiap kita berak, jarang melihat kotoran, lazimnya langsung siram. Setelah manusia berak, jarang yang ingat kotorannya sendiri, maknanya ikhlas tanpa dipikirkan.

Kali pertama saya mendengar “Filosofi Berak”, dari mendiang Ki Enthus Susmono. Dalang Visioner yang sangat kondang, Ki Enthus berasal dari Tegal, Jawa Tengah. Beliau salah satu Dalang yang saya idolakan, Penyampaiannya jelas, bahasanya ringan, dan gampang dicerna.

Ki Enthus Visioner, menciptakan Wayang Santri, dengan tokoh legendarisnya “Slenteng”. Wajahnya lucu, ngomongnya ceplas-ceplos, dan menggemaskan, dialah Slenteng salah satu murid Ki Enthus dalam Wayang Golek buatannya.

Ceritanya, sasat pertunjukan Wayang Santri bertajuk “NGAJI”, Slenteng, Lupit, dan Kyai (tokoh dalam pewayangan), sedang membahas tentang amal kebaikan. Setiap orang wajib berbagi/sedekah, terlebih bagi yang mampu.

Syarat berbagi/sedekah yang terbaik menurut Slenteng, layaknya orang Berak. Sedekah yang baik tanpa diperintah, tanpa diungkit, tanpa diomongkan, tanpa dipamerkan, tanpa dipikirkan.

Demikianlah renungan kehidupan hari ini, ternyata kita bisa memaknai kehidupan dari fungsi anatomi tubuh sendiri. Semoga kita selalu tergabung dalam pasukan berani sedekan, Aamiin.

Sedekah melipatgandakan rejeki, menyehatkan, mengharmoniskan rumah tangga, menjauhkan diri dari marabahaya, sekaligus menabung pahala. 


Kontak WA mbah mijan